Restorasi lahan gambut menjadi isu penting dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan di Indonesia. Sejak 2017, LSM EKA (Ekonomi Kreatif Andalan) mengambil peran strategis dalam memulihkan ekosistem gambut yang rusak akibat kebakaran hutan dan eksploitasi lahan berlebihan. Melalui program penanaman bibit pohon kayu alam dan kegiatan revegetasi, EKA menggandeng masyarakat lokal untuk bersama-sama menanam harapan di atas lahan yang sebelumnya tandus.
Kegiatan restorasi ini tidak hanya tentang menanam pohon. Prosesnya mencakup pembibitan, penanaman, pengukuran tata air, serta monitoring pertumbuhan tanaman. Salah satu nilai utama dari program ini adalah pendekatan partisipatif, di mana masyarakat dilibatkan langsung mulai dari perencanaan hingga pemeliharaan pohon.
Dengan dukungan dari lembaga seperti Badan Restorasi Gambut (BRG) dan Pmhaze, LSM EKA telah menjalankan berbagai proyek berkelanjutan. Salah satu bentuk insentif adalah kompensasi tanaman sagu untuk masyarakat yang lahannya terdampak kebakaran. Hal ini menjadi solusi win-win antara keberlanjutan lingkungan dan peningkatan ekonomi warga.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, program ini juga menjadi sarana edukasi. Masyarakat tidak hanya menanam pohon, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Restorasi gambut bukan pekerjaan satu atau dua tahun. Ini adalah komitmen jangka panjang yang membutuhkan sinergi antar berbagai pihak.
LSM EKA membuktikan bahwa menanam pohon bisa menjadi gerakan sosial yang kuat. Setiap bibit yang tumbuh adalah simbol dari harapan baru untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.