EKA Gelar Pelatihan Dasar Drone bagi MPA di Sumatera Selatan

SUMATERA SELATAN – Lembaga Swadaya Masyarakat Ekonomi Kreatif Andalan (LSM EKA) bersama PM Haze, berkolaborasi dengan Spora Institute dan Universitas Sriwijaya (UNSRI), menyelenggarakan pelatihan dasar penerbangan drone bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) di Kabupaten Ogan Ilir (OI) dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, pada 1–10 Oktober 2026.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas anggota MPA dalam memanfaatkan teknologi drone untuk mendukung pemantauan titik panas (hotspot), mengamati kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta membantu pengumpulan informasi lapangan sebagai dasar koordinasi dan penanganan kebakaran.

Pelatihan tahap pertama dilaksanakan pada 1–5 Oktober 2026 di Desa Parit, Kabupaten Ogan Ilir. Kegiatan tersebut diikuti oleh 18 peserta, terdiri atas tujuh anggota MPA Desa Parit, tujuh anggota MPA Desa Lorok, dua perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir, serta dua perwakilan Universitas Sriwijaya (UNSRI).

Selanjutnya, pelatihan tahap kedua dilaksanakan pada 6–10 Oktober 2026 di Desa Perigi, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Kegiatan ini melibatkan 12 anggota MPA Desa Perigi yang mendapatkan pembekalan mengenai penggunaan drone untuk menunjang kegiatan pemantauan kebakaran hutan dan lahan.

Secara keseluruhan, rangkaian pelatihan yang berlangsung selama sepuluh hari di dua kabupaten tersebut melibatkan 30 peserta, terdiri atas 26 anggota MPA dari tiga desa, dua perwakilan BPBD Ogan Ilir, dan dua perwakilan Universitas Sriwijaya.

Memadukan Pembelajaran Teori dan Praktik Penerbangan

Pelatihan dilaksanakan selama lima hari di masing-masing lokasi dengan menggabungkan pembelajaran teori dan praktik langsung. Dua hari pertama difokuskan pada pemahaman dasar teknologi drone, sedangkan tiga hari berikutnya digunakan untuk meningkatkan keterampilan peserta dalam mengoperasikan perangkat di lapangan.

Dalam sesi teori, peserta diperkenalkan dengan berbagai komponen drone, fungsi perangkat, mekanisme pengoperasian, serta prosedur keselamatan penerbangan. Peserta juga mempelajari karakteristik drone DJI Air 2S dan DJI Mavic 3 Pro yang digunakan sebagai referensi dalam pelatihan.

Memasuki sesi praktik, anggota MPA mendapatkan kesempatan mempelajari tahapan persiapan penerbangan, pemeriksaan perangkat, proses lepas landas (takeoff), menjaga kestabilan drone di udara (hovering), teknik manuver, hingga prosedur pendaratan (landing) yang aman.

Selain itu, peserta berlatih menerbangkan drone menggunakan sejumlah pola penerbangan, seperti pola garis lurus, kotak, lingkaran, dan angka delapan. Latihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan pengendalian, ketepatan gerakan, serta pemahaman terhadap orientasi drone saat berada di udara.

Peserta juga diperkenalkan dengan fitur Return-to-Home (RTH), yaitu sistem yang memungkinkan drone kembali menuju titik awal penerbangan dalam kondisi tertentu. Pemahaman terhadap fitur keselamatan ini menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung penerbangan yang aman, terutama ketika menghadapi keterbatasan sinyal atau daya baterai.

Mendukung Pemantauan Hotspot dan Penanganan Karhutla

Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan menerbangkan drone, tetapi juga pada penerapannya untuk mendukung tugas MPA dalam pemantauan kebakaran hutan dan lahan.

Melalui simulasi misi pemantauan, peserta mempelajari cara mengamati kondisi suatu wilayah dari udara, mendokumentasikan situasi lapangan, serta mencatat informasi penting yang ditemukan selama penerbangan.

Pemanfaatan drone diharapkan dapat membantu anggota MPA memperoleh gambaran kondisi wilayah yang lebih luas, termasuk mengidentifikasi indikasi titik panas, keberadaan asap, dan perkembangan kebakaran pada area yang sulit dijangkau melalui patroli darat.

Informasi berupa foto dan video udara dapat menjadi bahan pendukung dalam menilai kondisi lapangan, menentukan prioritas pemantauan, serta meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait dalam upaya penanganan kebakaran.

Meskipun demikian, penggunaan drone tetap perlu memperhatikan kondisi cuaca, jarak pandang, keselamatan penerbangan, serta situasi di sekitar lokasi kebakaran agar kegiatan pemantauan tidak menimbulkan risiko tambahan bagi petugas maupun masyarakat.

Memperkuat Kolaborasi dan Kapasitas Masyarakat

Kolaborasi antara LSM EKA, PM Haze, Spora Institute, dan Universitas Sriwijaya menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menghadapi tantangan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan.

Keterlibatan perwakilan BPBD Kabupaten Ogan Ilir dan Universitas Sriwijaya dalam pelatihan di Desa Parit juga memberikan ruang bagi pertukaran pengalaman dan pengetahuan antara masyarakat, lembaga penanggulangan bencana, serta kalangan akademisi.

Melalui pendekatan pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik, kegiatan ini diharapkan dapat membangun keterampilan teknis anggota MPA sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan pemantauan lingkungan.

Penguatan kapasitas MPA menjadi penting mengingat kelompok masyarakat tersebut memiliki peran dalam melakukan patroli, pemantauan, dan penanganan awal kebakaran hutan dan lahan di wilayah masing-masing.

Dengan adanya keterampilan pengoperasian drone, anggota MPA diharapkan memiliki sarana tambahan untuk memperoleh informasi visual dari udara, melengkapi pengamatan langsung di lapangan, dan mendukung koordinasi penanganan kebakaran secara lebih efektif.

Pelaksanaan pelatihan di Desa Parit, Desa Lorok, dan Desa Perigi ini menjadi langkah penguatan kapasitas masyarakat melalui penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pemantauan kebakaran hutan dan lahan.

Melalui kerja sama berbagai pihak, LSM EKA berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus dikembangkan serta dimanfaatkan dalam kegiatan pemantauan hotspot, patroli lingkungan, dan penanganan kebakaran hutan dan lahan di tingkat desa

Facebook
X
Pinterest
WhatsApp
Email